Sony Beli Pembuat Game Eksklusif Xbox Senilai Rp 51 Triliun

Seolah tak mau kalah dari Microsoft, Sony melakukan akuisisi terhadap salah satu pengembang game kenamaan asal Amerika Serikat yakni Bungie. Langkah akuisisi ini terbilang sangat menarik. Pasalnya, Bungie adalah pengembang di balik sejumlah game populer, salah satunya adalah Halo yang merupakan game eksklusif di konsol Xbox milik Microsoft. Akuisisi ini diumumkan Sony Interactive Entertainment (SIE) dengan nilai kesepakatan sebesar 3,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 51,7 triliun. Berkat akuisisi ini, saham Sony meningkat 2,6 persen di Tokyo pada perdagangan saham Selasa tanggal 1 Februari 2022. “Akuisisi ini akan memberikan SIE akses pendekatan Bungie untuk layanan permainan langsung (live) dan keahlian teknologi untuk menjangkau miliaran pemain,” kata Sony dalam pernyataannya. Bungie tetap akan beroperasi secara independen meski telah dibeli Sony. Dengan kata lain, Bungie tetap dapat menerbitkan game sendiri dan memungkinkan pemain untuk memainkan game di platform apapun seperti saat ini. Bungie juga menegaskan game masa depan perusahaan tidak akan eksklusif untuk konsol milik Sony, PlayStation.

“Kami akan terus menerbitkan dan mengembangkan game kami secara mandiri. Kami akan terus mendorong komuitas Bungie untuk bersatu dan game kami akan terus ada di tempat komunitas kami berada, di manapun mereka memainkannya,” kata Bungie. Disadur dari Yahoo Finance, Rabu tanggal 2 Februari 2022, Bungie didirikan pada tahun 1991. Pengembang game ini pernah diakuisisi oleh Microsoft pada tahun 2000 seharga 30 juta dollar AS (Rp 430 miliar), saat perusahaan mengembangkan game Halo. Halo juga menjadi dasar bagi Microsoft untuk meluncukan konsol Xbox. Seri terakhir game Halo yang dikembangkan Bungie untuk Microsoft adalah Halo:Reach yang dirilis pada 2010.

Pada tahun 2007, Bungie keluar dari Microsoft dan mengembangkan game Destiny bersama Activision. Namun, lagi-lagi kesepakatan kedua perusahaan berakhir pada tahun 2019. Pada akhirnya Bungie menerbitkan game Destiny secara mandiri. Destiny menjadi waralaba game yang berbeda dari game lainnya. Alih-alih menghadirkan sekuel, Bungie memilih untuk memperluas game yang sudah dibuat menjadi Destiny 2. Game ini tersedia secara gratis, dan Bungie secara rutin menghadirkan konten baru dalam game. Cara ini sukses membuat Destiny berkembang dan menjaring 20 juta pemain pada 2019. Kini perusahaan sudah memiliki lebih dari 900 karyawan. Setelah proses akuisisi selesai, Bungie akan menjadi anak perusahaan independen Sony Interactive Entertainment, di bawah kendali Pete Parsons, Chief Executive Officer Bungie saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.