Melatih Anak Mengelola Emosi Agar Tidak Mudah Tantrum

Tidak jarang orangtua menemukan anak-anak yang memiliki ledakan tantrum. Segala upaya mereka lakukan untuk menenangkan anak, mulai dari cara paling halus dengan bujukan hingga yang agak kasar dengan ancaman. Respons orangtua yang terpancing untuk marah kepada anak, membuat persoalan semakin kompleks. Untuk itu, di sinilah orangtua perlu untuk memahami emosi anak dan mengajarkan pengelolaan emosi kepadanya sejak usia dini. Selain itu, tanpa sadar orangtua kerap berambisi untuk membuat anak bersikap baik sesuai standarnya, tanpa lebih dulu memahami sikap dan sifatnya. Tidak hanya dalam pengelolaan emosi, hal ini juga terjadi saat mengeksplorasi minat dan bakat.

Emosi tidak identik dengan kemarahan

Perlu dipahami oleh orangtua kalau emosi tidak selalu identik dengan kemarahan. Pada dasarnya, emosi adalah suasana perasaan, bisa positif dan negatif. Hanya saja, di masyarakat tampaknya kata emosi dipahami sebagai kemarahan. Padahal, dalam pengelolaannya tidak selalu berkaitan dengan emosi negatif berupa kemarahan, tetapi juga emosi positif seperti rasa bahagia. Orang yang sehat secara psikologi akan bisa mengekspresikan emosinya secara wajar. Hal ini ditandai dengan rasa bahagia tidak berlebih-lebihan dan rasa sedih tidak berlarut-larut.

Ada pesan yang harus ditangkap

Penting bagi orangtua untuk mengenali pesan yang ingin disampaikan anak dari ekspresi atau emosi mereka. Misalnya, ketika anak tidak mau makan atau tiba-tiba marah, perlu diidentifikasi apa penyebabnya. Cobalah untuk fokus pada persoalan dan pemberian solusi, dibandingkan memarahi anak. Ajak anak untuk mencari solusi dari persoalannya dan berikan dukungan yang dibutuhkan anak. Niscaya, dua hal tersebut akan menjadi bekal penting bagi orangtua untuk lebih bisa memahami emosi anak.

Tips melatih pengelolaan anak yang tantrum

Ajak anak untuk mengenali emosinya

Hal mendasar yang perlu orang tua ajarkan pada anak adalah pengenalan emosi. Ajak anak untuk mengenali berbagai emosi yang dirasakan dan mengungkapkannya dengan kata-kata pada orang tua. Misalnya, “Adek lagi sedih, ya?” atau “Oh, adek marah sama Bunda?”. Pertanyaan tersebut akan membantu anak mengenali emosinya. Dengan begitu, orangtua akan lebih mudah berempati pada anak. Selanjutnya, orangtua bisa memberikan dukungan pada mereka dengan memahami penyebab dari emosi yang dirasakan, seperti “Adek lagi marah sama Bunda soalnya Bunda pulang terlambat?”. Dari situ, orangtua bisa menyampaikan permintaan maaf dan menjelaskan alasannya pulang terlambat dengan asertif. Hal ini dilakukan agar anak bisa mengontrol emosinya apabila sewaktu-waktu orangtua pulang larut lagi.

Ajarkan berbagai ekspresi dari emosinya

Pada tahap perkembangan awal, anak belum bisa mengekspresikan emosinya dengan banyak cara. Ada anak-anak yang terus menangis untuk mengekspresikan sesuatu. Orangtua pasti bingung meresponsnya. Karena itulah, penting untuk mengajarkan anak berbagai ekspresi dari emosi yang dirasakan. Di sini, orangtua harus mengajarkan pada anak ekspresi emosi yang sehat, tidak merusak, tidak membahayakan, dan baik bagi dirinya maupun orang lain. Karena, ada kasus bahwa, anak laki-laki di usia TK mencium teman perempuannya. Sontak hal ini memunculkan kegaduhan di sekolah. Untungnya, pihak sekolah langsung mencari tahu permasalahan yang terjadi dengan mendatangkan psikolog. Dari sesi konseling itu, diketahui bahwa anak tersebut biasa mengekspresikan rasa bahagia di rumah dengan mencium ibunya. Hal tersebut sebenarnya wajar, tapi persoalannya adalah tak semua orang bisa menerima ekspresi tersebut. Oleh karena itu, orangtua juga harus mengajarkan alternatif ekspresi lain, misalnya dengan memberikan hadiah atau mengungkapkan secara lisan. Orangtua juga perlu merenungkan apakah selama ini sudah tepat mengajarkan anak berbagai ekspresi emosi dengan lebih sehat dan tidak mengganggu lingkungan. Jika belum, kembali evaluasi dan ajarkan pengungkapan yang baik.

Relaksasi untuk mengendalikan emosi negatif

Relaksasi akan membantu seseorang menurunkan emosi negatif. Jika sedang marah, ajak anak untuk duduk dan mengatur napasnya. Tarik napas perlahan lalu hembuskan. Dengan hal tersebut, akan ada banyak oksigen yang masuk sehingga pikiran bisa menjadi lebih fresh. Selain itu, otot-otot tubuh pun akan lebih rileks. Demikian sejumlah tips untuk membantu anak melatih pengelolaan emosi agar tidak meledak-ledak. Hal penting yang tidak kalah untuk dipahami adalah anak belajar dari orang-orang terdekatnya. Orangtua, lingkungan rumah, teman sebaya, dan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk sikap dan perilaku anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published.